Sunday, April 30, 2017

Protap Cara Pemberian Injeksi Intra Selang Infus


Pengertian Pemberian Injeksi Intravena Melalui Selang Infus (Bolus)
Menurut Ambarawati (2009), pemberian obat secara injeksi (parenteral) merupakan pemberian obat yang dilakukan dengan menyuntikkan obat tersebut ke jaringan tubuh atau pembuluh darah dengan menggunakan spuit.

Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir dimasukkan ke dalam tubuh dengan menggunakan alat suntik.

Injeksi intravena (bolus) adalah pemberian obat dengan cara memasukkan obat ke dalam pembuluh darah vena atau melalui karet selang infuse dengan menggunakan spuit. Sedangkan pembuluh darah vena adalah pembuluh darah yang menghantarkan darah ke jantung. Injeksi intravena bertujuan untuk memperoleh reaksi obat yang cepat diabsorpsi dari pada dengan injeksi perenteral lain, menghindari terjadinya kerusakan jaringan serta memasukkan obat dalam jumlah yang lebih besar.


Tujuan Pemberian Injeksi Intravena Melalui Selang Infus (Bolus)
  1. Mendapatkan reaksi obat yang cepat diabsorbsi daripada injeksi parenteral lain
  2. Mempertahankan atau mengganti cairan tubuh yang mengandung air, elektrolit, vitamin, protein, lemak dan kalori yang tidak dapat dipertahankan melalui oral.
  3. Mengoreksi dan mencegah gangguan cairan dan elektrolit
  4. Menghindari terjadinya kerusakan jaringan.
  5. Memperbaiki keseimbangan asam basa
  6. Memasukkan obat dalam jumlah yang besar
  7. Memberikan tranfusi darah
  8. Menyediakan medium untuk pemberian obat intravena
  9. Membantu pemberian nutrisi parenteral
  10. Memonitor Tekanan Vena Sentral (CVP)

Persiapan Alat sebelum Pemberian Injeksi Intravena Melalui Selang Infus (Bolus)
  1. Sarung tangan satu pasang
  2. Spuit steril 3 ml atau 5 ml atau spuit imunisasi
  3. Bak instrument
  4. Perlak dan alasnya
  5. Bengkok
  6. Wastafel atau tempat cuci tangan
  7. Kapas alkohol
  8. Obat injeksi dalam vial atau ampul
  9. Water for injection
  10. Daftar pemberian obat
  11. Waskom berisi larutan chlorine 0,5%

Procedure & Teknik Melakukan Injeksi Intravena Melalui Bolus:
  1. Memberikan salam dan menjelaskan pada pasien tindakan yang akan dilakukan procedure serta tujuannya.
  2. Menyiapkan alat dan bahan, membawa ke dekat pasien.
  3. Memasang sampiran.
  4. Mengatur posisi pasien senyaman mungkin.
  5. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mengeringkan dengan handuk bersih.
  6. Memakai sarung tangan.
  7. Oplos obat menggunakan water steril for injection hingga tercampur. Selanjutnya tarik menggunakan spuit.
  8. Memastikan tidak ada gelembung udara pada spuit dengan cara mencoba spuit terlebih dahulu, lalu simpan pada bak instrumen.
  9. Mencari tempat penyuntikan obat pada karet selang atau pada tutup area injeksi pada vasofix.
  10. Memasang pengalas dibawah daerah yang akan disuntik.
  11. Melalukan swab atau mendesinfeksi karet selang infus (bolus) dengan kapas alkohol, secara sirkular dengan diameter + 5 cm.
  12. Mengklem cairan infuse.
  13. Menusukkan jarum ke dalam karet selang infus (bolus) dengan tangan yang dominan.
  14. Menarik sedikit penghisap untuk aspirasi apakah jarum sudah masuk selang infus.
  15. Memasukkan obat perlahan-lahan ke dalam vena dengan kecepatan maksimal 5 cc/menit. Untuk obat-obatan yang pekat sebaiknya dioplos terlebih dahulu menggunakan water steril.
  16. Menarik jarum keluar setelah obat dimasukkan, selanjutnya swab lagi menggunakan kapas alkohol.
  17. Periksa kecepatan tetesan cairan infuse.
  18. Membereskan alat, buang alat suntik dan bekas tempat obat dengan benar.
  19. Buang sampah pada tempat sampah medis.
  20. Buka sarung tangan dan buang pada tempat sampah medis.
  21. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mengeringkan dengan handuk atau tissue hingga kering dan bersih.
  22. Melakukan evalusi dan respon pasien setelah tindakan dilakukan.
  23. Dokumentasi tindakan yang telah dilakukan.
Semoga bermanfaat..

Protap Pengukuran Antropometrik (Status Gizi Pasien)


Pengertian:
Ketebalan lipatan kulit adalah suatu pengukuran kandungan lemak tubuh karena sekitar separuh dari cadangan lemak tubuh total terdapat langsung dibawah kulit. Pengukuran tebal lipatan kulit merupakan salah satu metode penting untuk menentukan komposisi tubuh serta persentase lemak tubuh dan untuk menentukan status gizi cara antropometrik

Tujuan:
  •      Dapat mengetahui nilai standart TLK tricep
  •      Dapat mengetahui status gizi klien
  •      Dapat menentukan derajat obesitas dengan menggunakan rumus densitas tubuh
Indikasi/Dilakukan pada :
  •            Pada penderita dewasa yang kekurangan gizi
  •       Pada penderita dewasa yang kelebihan gizi
  •    Pada penderita dewasa yang tidak bisa dapat diukur BB maupun TB misalnya pada keadaan koma
Persiapan
aPersiapan Alat :
*      Pita ukur flexibel (Anthropometry tape)
*      Skinfold calipers
*      Pensil (landmark pencil)
  1. Persiapan Pasien :
*      Sapalah klien dengan ramah dan perkenalkan diri pada klien
*      Persilahkan klien untuk duduk
*      Beri informasi umum tentang pengukuran yang akan dilakukan
*      Informasikan tentang cara melakukan, tujuan, manfaat pengukuran tebal lipatan kulit untuk klien
*      Jelaskan tentang kemungkinan hasil yang diperoleh
*      Jaga privacy klien
c.   Persiapan Perawat :
*      Sebelum dan sesudah melaksanakan tindakan cuci tangan
*      Persiapkan peralatan yang akan digunakan.

Pengkajian :
a.    Cek perencanaan keperawatan

Prosedur
1.         Mencuci Tangan
2.        Menerangkan prosedur dan tujuan pengukuran pada klien.
3.        Menentukan sembilan tempat pengukuran TLK, yaitu: pada dada (chest), subscapula, mix-axilaris, suprailiaka, perut (abdominal), triseps, biseps, thigh (paha), medial calf (betis)
4.        Melakukan pengukuran TLK pada masing-masing lokasi
a.    Pengukuran pada dada (chest):
-       Ambil lipatan kulit dari arah diagonal antara axilla dan puting susu setinggi mungkin, sejajar dengan lipatan bagian depan dengan ukuran 1 cm dibawah jari tangan
b.    Pengukuran pada subscapula:
-       Ambil lipatan kulit dari arah diagonal sepanjang garis cleavage tepat di bawah scapula dengan ukuran 1 cm dibawah jari tangan
c.     Pengukuran pada mid-axilla:
-       Ambillah lipatan kulit dari arah horizontal pada garis midaxillaris, tepat pada pertemuan xiphisternal
d.    Pengukuran pada suprailiaka:
-       Ambillah lipatan kulit dari arah miring ke arah belakang garis mid-axillaris dan ke atas iliaka, dengan ukuran 1 cm dibawah jari tangan
e.     Pengukuran pada abdominal :
-       Lipatan kulit diambil dengan arah horizontal 3 cm di samping tali pusat dan 1 cm ke pusat umbilicus
f.     Pengukuran pada triseps:
-       Lipatan kulit diambil dengan arah vertical pada jarak antara penonjolan lateral dari prosessus acronial dan batas inferior dari prosessus olecranon dan diukur pada bagian lateral lengan dengan bahu bersudut 90° menggunakan pita pengukur. Titik tengah ditandai pada sisi samping lengan. Pengukuran diambil 1 cm diatas tanda tersebut.
g.    Pengukuran pada biseps:
-       Lipatan kulit diambil dengan arah vertical diatas biseps brachii yang sejajar dengan triseps di bagian belakang. Pengukuran dilakukan 1 cm dibawah jari.
h.    Pengukuran pada paha:
-       Lipatan kulit diambil dengan arah vertical pada tengah paha antara lipatan inguinal dan batas dari patella. Pengukuran dilakukan 1 cm dibawah jari
i.      Pengukuran pada betis :
-       Lipatan kulit diambil dengan arah vertikal pada lingkaran betis yang paling lebar pada bagian tengah dari betis dengan lutut bersudut 90°.
5.        Mencuci tangan setelah pengukuran
6.        Klien dirapikan, peralatan dibereskan dan dikembalikan ke tempat semula
7.        Mendokumentasikan prosedur
8.        Menentukan nilai TLK klien dengan membandingkan hasil pengukuran dengan nilai standar yang ada pada acuan
9.        Menentukan status gizi klien

Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Pada Saat melakukan Prosedur Tindakan Pengukuran Antropometri :
Pengukuran-pengukuran tersebut sebaiknya jangan dilakukan segera setelah subyek melakukan latihan fisik atau perlombaan, mandi sauna, berenang atau mandi, selama latihan fisik, atau kondisi yang menyebabkan hiperemia karena dapat meningkatkan ketebalan lipatan kulit. Selain itu dehidrasi juga dapat menyebabkan peningkatan tebal lipatan kulit akibat perubahan turgidity kulit.

Tuesday, February 2, 2016

PROTAP KEPERAWATAN ROM ANGGOTA GERAK ATAS(TANGAN)


Pengertian
Merupakan suatu bentuk latihan gerak sendi ekstremitas atas (bagian tangan) secara aktif atau pasif yang dilakukan oleh perawat atau petugas fisioterapis pada pasien baik ditempat tidur maupun ditempat latihan.
Tujuan
1.    Menjaga dan mengembalikan kelenturan sendi
2.    Meningkatkan vaskularisasi
3. Mencegah terjaddinya oedema dan kaku sendi
4. Membantu mempercepat kesembuhan pada pasien stroke
Kebijakan
Klien dengan keterbatasan rentang gerak dan immobilisasi
Dilakukan oleh perawat maupun petugas fisioterapis
Prosedur
Peralatan

1.     Penghangat / WWZ dan sarungnya
A.    Tahap PraInteraksi
1.   Mengecek program terapi
2.   Mencuci tangan
3.   Menyiapkan alat

B.     Tahap Orientasi
1.   Memberikan salam kepada pasien dan sapa nama pasien
2.   Menjelaskan tujuan  dan prosedur pelaksanaan
3.   Menanyakan persetujuan/kesiapan pasien

C.    Tahap Kerja
1.   Menjaga privacy pasien
2.   Menghangatkan sendi yang akan dilatih selama
3.   Melatih sendi-sendi secara bergantian
a.    Bahu:
1)   Menggerakkan lengan Abduksi-Adduksi
2)   Menggerakkan lengan Fleksi-Ekstensi
3)   Menggerakkan lengan Hiperekstensi-posisi anatomi
b.    Siku: menggerakkan lengan bawah Fleksi-Ekstensi
c.    Lengan bawah: menggerakkan Pronasi-Supinasi
d.   Pergelangan tangan:
1)        Menggerakkan Fleksi radialis
2)        Menggerakkan Fleksi ulnaris
3)        Menggerakkan Hiperekstensi-Fleksi
e.    Jari-jari
1)   Menggerakkan Abduksi- Adduksi
2)   Menggerakkan Fleksi-Ekstensi
4.   Merapikan pasien

D.  Tahap Terminasi
1.    Melakukan evaluasi tindakan yang dilakukan
2.    Berpamitan dengan klien
3.    Membereskan alat-alat
4.    Mencuci tangan
5.    Mencatat kegiatan dalam lembar catatan perawatan
Unit terkait
ICU, HCU, SCU dan Rawat Inap

Sunday, January 24, 2016

Protap Penanganan Hipoglikemi Terbaru Sesuai IPD

Hal - hal yang harus dilakukan dan dipantau selama pasien terjadi hipoglikemi adalah
- Pantau keadaan klinis: lemas hebat, muncul keringat banyak, dan gemetaran
- Pantau GDS (gula darah sewaktu) pasien
- Kaji adanya riwayat penyakit gula (diabetes melitus)

Penatalaksanaan Penanganan Hipoglikemi (gula darah rendah):
- Jika GDS < 60 mg/dl berikan dextrose 40% sebanyak 2 flacon + infus dextrose 10% 500cc/8 jam
- Jika GDS 60 - 80 mg/dl berikan dextrose 40% sebanyak 1 flacon + infus dextrose 10% 500cc/8 jam
- Jika GDS 80 - 100 mg/dl berikan infus dextrose  10% 500cc/8 jam
- Jika GDS 100 - 150 mg/dl berikan infus dextrose 5%  500cc/8 jam
- Jika GDS 150 - 200 mg/dl berikan infus Nacl 0.9% 500cc/8 jam

Lakukan pemeriksaan GDS tiap jam sampai GDS > 100 mg/dl selama 3 kali berturut - turut.
Selanjutnya Lakukan pemeriksaan GDS tiap 2 jam sampai GDS >100 mg/dl selama 3 kali berturut - turut.
Selanjutnya lakukan pemeriksaan GDS tiap 4 jam sampai GDS > 100 mg/dl selama 3 kali berturut - turut.
Selanjutnya lakukan pemeriksaan GDS tiap 6 jam KGDH  + koreksi dosis kelipatan 5 unit mulai dari GDS 150 - 200 mg/dl  dan kelipatannya.
Artinya:
- GDS 150 - 200 mg/dl berikan insulin  sebanyak 5 unit
- GDS 200 - 250 mg/dl berikan insulin sebanyak 10 unit
- GDS 250 - 300 mg/dl berikan insulin sebanyak 15 unit
- GDS 300 - 350 mg/dl berikan insulin sebanyak 20 unit
- GDS 350 - 400 mg/dl berikan insulin sebanyak 25 unit


Semoga bermanfaat..

Wednesday, January 6, 2016

PROTAP UNIVERSAL PRECAUTION / KEWASPADAAN UMUM


Pengertian
Kewaspadaan dini adalah keadaan secepatnya tentang adanya kasus/tersangka agar dapat segera dilakukan tindakan atau langkah untuk membatasi kasus kejadian/penyakit
Tujuan
1.      Pencegahan infeksi di rumah sakit
2.      Upaya pencegahan standar atau pencegahan dasar pada semua kondisi
3.      Salah satu bagian inti dari teknik isolasi
Kebijakan
1.      Standart rumah sakit yang tidak punya pengelolaan kewaspadaan dini akan diturunkan levelnya.
2.      Semua kendali dan tanggung jawab ada pada tenaga medis dan paramedis
3.      Peralatan dalam keadaan steril saat digunakan diawal dan dilakukan strilisasi ulang saat setelah pemakaian sesuai prosedur sterilisasi alat  penanganan jenazah
4.      Petugas Rumah Sakit melakukan untuk penanganan yang dilakukan oleh rs dibawah tanggung jawab RS yang bersangkutan penyakit –penyakit dalam tingkatan ini adalah HIV-AIDS dan FLU burung tetapi tidak menutup penyakit lain yang punya kategori hampir sama.
Prosedur
DISIAPKAN alat :
1.      Antiseptik : alkohol 60- 90%,klorheksedin 2-4 %, yodin +alkohol 3 %, atau yang lainnya
2.      Air dari kran yang mengalir
3.      Alat pelindung diri diantaranya : sarung tangan, pelindung muka (masker dan kaca mata), gaun/jubah/apron dan pelindung kaki

Penatalaksanaan
1.      Petugas melakukan cuci tangan dengan menggunakan antiseptik bisa pilih salah satu antiseptik  dan dilanjutkan dengan mencuci tangan kembali dengan air mengalir selam 2-5 menit
2.      Semua petugas memakai alat pelindung semua alat haru dipakai pada saat menangani jenazah penyakit dalam kewaspadaan dini untuk mengurangi pejanan darah dan cairan tubuh jenazah
3.      Setelah proses penatalaksanaan jenazah (sesuai protap penalaksanaan jenazah) petugas melepasakan semua peralatan.
4.      Pengelolaan alkes bekas pakai (dekoytaminasi, streilisasi , diinfeksi sesuia protap penatalaksanaan pengelolaan alkes bekas pakai
5.      Pengelolaan benda tajam : untuk benda habi paki yang berupa benda tajam pengelolaan sampah dengan dibakar di incenerator
6.      Selanjutnya pengelaolaan limbah ruangan di RS sesuai prosedur di Rumah Sakit masing-masing
Unit terkait
RS Bersangkutan